Home | Tutorial


Rekam Jejak Notulen Code: Surat Terbuka Untuk Bapak Ibu Anggota DPR..

Dear Bapak Ibu anggota DPR yang ingin sekali kami cintai,
Dihubung-hubungkan dengan beberapa agenda kerja anda sekalian yang beberapa kali membuat saya terkaget-kaget, shock hingga tertawa miris. Saya menulis surat terbuka ini di blog saya, dengan harapan bapak ibu sekalian iseng bisa membacanya saat sedang rapat paripurna. Daripada tidur tho?
Hal pertama yang membuat saya terkaget-kaget adalah ketika saat itu berhembus rencana untuk merenovasi gedung DPR yang kabarnya miring 7 derajat. Bukan miringnya yang membuat saya terkejut, tapi besaran dana yang dikeluarkan untuk meluruskan kembali gedung tersebut. Berbahaya? Tentu saja berbahaya bila anda tertidur di dalamnya selama rapat dan tidak menyadari kemiringan gedung. Atau mungkin karena anda sering tidur disatu sisi, jadi gedung itu menjadi miring. Hayoo, salah siapa tuh?
Atau dengan rencana pembangunan gedung baru yang kabarnya akan dilengkapi sarana ruang spa dan kolam renang. Sekalian aja pak sama water boom, biar mewahnya kerasa. Kalau anda bilang sebagai alat relaksasi karena telah bekerja keras, tidak terasa adil kalau melihat bahwa semua itu dibiayai oleh negara. Kami mungkin akan teriak-teriak tidak setuju, betul kami iri. Anda tertidur selama rapat dan anda bilang telah bekerja keras demi negara ini? Bangunlah pak bu, rapatnya sudah selesai, dan sudah waktunya pulang. Atau bila ingin sama-sama adil, anda boleh memakainya pada jam kantor, sabtu minggu tolonglah gedung permainan itu dibuka untuk umum. Toh, rakyat juga ingin mengetahui ruang kerja anggota dewannya. Dan tentu ingin menikmati fasilitas mewah yang dibiayai negara. Kapan lagi coba? Kapan lagi coba?
Dan ketika rencana pembangunan gedung baru itu tidak terealisasi, saya pribadi merasa senang dan bahagia luar biasa, walaupun ada sedikit sakit hati dengan perkataan salah seorang anggota anda ketika rencana ini masih digembar-gemborkan.
Bila saya tidak salah mengutip dan mungkin ini versi kasarnya yang saya tangkap, ketika itu beliau berkata, "Pembangunan gedung baru ini tidak ada hubungannya dengan kemiskinan di negara ini yang sudah berlangsung bertahun-tahun! DPR mau membangun gedung baru, rakyat Indonesia yang miskin tetap miskin! Adapun DPR yang periode kemarin tidak jadi membangun gedung, dikarenakan mereka tidak punya keberanian!" Yaelah pak, mbok yaa ada tenggang rasa dikit lah, lihat situasi dong pak, bukan masalah miskin atau tidak, tapi kepekaan anda terhadap rakyat yang telah memilih anda sebagai wakilnya. Dan saya yakin mereka berharap anda mau menanggulangi masalah kemiskinan yang anda ucapkan sendiri telah berlangsung bertahun-tahun.
Hal kedua yang membuat saya geleng-geleng kepala, ketika kembali tersiar kabar beberapa dari anda akan studi banding ke Yunani untuk belajar tentang etika. Apakah perlu? Yakin perlu? Tanya sekali lagi, apakah benar-benar sangat perlu? Tak bisakah anda melakukan studi banding dengan perwakilan dari Yunani di Jakarta saja? Atau seperti yang anda inginkan, agar lebih terasa studi bandingnya. Curiga saya sih, menurut kamus besar bahasa indonesia versi DPR, studi banding itu adalah perjalanan plesir untuk menghabiskan uang rakyat dengan dalih ingin mempelajari sesuatu di negara yang akan dikunjungi. Duh, gak ada habisnya nih suudzhon sama anda semua. Perlu gak sih pak, bu? Wah, berbicara dengan anda, saya seperti berbicara dengan orang tidur. Eh, beneran tidur toh? Tak sopaaaan!!
Oh, atau ketika beberapa dari anda mindik-mindik melakukan studi banding ke Italia, disaat negeri ini tertimpa dua bencana alam yang cukup dahsyat. Dimana rasa simpati anda? Dimana rasa kepekaan anda terhadap sesama. Dan kenapa harus mindik-mindik atau bahasa Indonesianya adalah PERGI DIAM-DIAM? Takut dicegat ya pak di bandaranya?
Atau, bagaimana dengan komentar sinis ketua anda. Seandainya memang seperti itu, tolong lah pak, sampaikan dengan pemilihan kata yang baik. Toh, ketika tertimpa musibah, hanya orang yang cacat perasaannya saja yang berkomentar tidak perlu dan tidak penting. Empati lah kau tunjukkan pak. Gak usah sinis gitu ngomongnya. Kata ibu saya sih, "Kalau tidak bisa ngomong yang baik, lebih baik kamu diam saja!".
Kalau wartawan nanya, sekiranya bapak tidak bisa menjawab dengan baik dan benar, gunakanlah jurus mbak Desi Ratnasari, bilang "No comment!" sambil tebar-tebar senyum dan tangan menghalangi kamera. Saatnya diam itu emas.

[empty space for the next agenda member of people at representative house]


Hormat saya,
Nadia Putri Karisya
Warga negara yang berharap bisa mencintai dan menghargai kinerja anggota dewannya

P.S : Surat ini mungkin akan bertambah panjang mengingat jabatan anda sekalian baru akan berakhir tahun 2014

Artikel yang berhubungan



Posted by : Nadia Putri Karisya at Thursday, October 28, 2010
Categories: :

 

2 comment(s):

ajeng sekar tanjung said...

senang membacanya nad!
sudah males liat berita tentang anggota dewan, apalagi kalo petinggi-petingginya mulai banyak bicara gak pake saringan..

indro said...

saya dukung nad.. :D

Post a Comment

 
 


Rekam Jejak Notulen Code

gajah mati meninggalkan gadingnya, programmer mati meninggalkan codenya

Designed by © indrockz