Home | Tutorial


Rekam Jejak Notulen Code: iseng
Showing posts with label iseng. Show all posts
Showing posts with label iseng. Show all posts

Ada satu kebiasaan ibu-ibu jaman baheula yang menunjukkan bakti pada suami, yaitu menyajikan kopi di pagi hari. Tapi, itu tidak berlaku di keluarga kecil kami.
Suami gue, penggemar berat kopi, dan dia gak suka kopi sachet-sachetan. Jadi, gue sebagai mantan penggemar kopi, kurang paham kopi yang enak menurut suami gue itu seperti apa.

"Tapi kan, bisa nanya dong ke suami komposisi yang pasnya?"

Nah, disini ceritanya. Karena suami penggemar berat kopi, jadi dia menyukai segalanya tentang kopi. Termasuk menggiling sendiri kopinya, meracik komposisi yang pas, gula (he rarely use sugar) segimana, berat kopinya berapa gram, suhu airnya paling bagus berapa, dan remeh temeh lain yang cuman bisa dipahami oleh sesama penggemar kopi.

Suatu waktu, gue penasaran sama kopi yang suka dia seruput dengan berisik :D.

"Emang enak?"
"Nih, mau nyoba?"

So I take that as gesture that he loves me, karena dia menawarkan ke gue sesuatu yang sangat dia sukai :D **maaf, maaf, yang sebel bisa di-skip**

Gue coba seruput, dan rasanya asem dan pahit yang bikin muka gue langsung mengernyit aneh. FYI, dulu gue cuman suka cappucino. Pahitnya kopi ketutup sama susu dan krimer/gula.

"Ini enak, A?" Gue nanya dengan muka heran dan bingung.
Dia mengangguk, dan melanjutkan seruputan kopinya. Gue geleng-geleng kepala tidak mengerti sama sekali.

Ya emang sih, dari awal menikah sama dia, kita udah tahu kalo selera kita agak beda di beberapa bidang. Tapi gak beda banget kayak langit bumi juga sih, ada juga selera yang sama. Intinya mah saling melengkapi dan menghargai.

Dan lucunya, karena beda, awal-awal menikah, kita bekerja keras buat saling menyukai hal berbeda yang dimiliki satu sama lain. Yang ujung-ujungnya menyerah dan pasrah.

Gue suka banget sama buku, sementara dia lebih suka menonton atau main game. Dan dia bela-belain beli buku, dibaca sampai habis buat mengisi waktu luang kita berdua. Sweet kan? Haha. Tapi ya karena bukan hobinya dia, gak bertahan terlalu lama. Gak apa-apa sih menurut gue, karena gue juga gitu, hohohoho.

Dia seneng banget jalan-jalan atau menghabiskan waktu di rumah, sementara gue anak rumahan yang doyannya rebahan. Awal-awal nikah, ya ikut-ikut aja diajak jalan sama dia, kesana kemari. Sampai gue bisa baca GPS dong akhirnya karena kita menjelajah kemana-mana. Sekarang? Udah gak kuat ngintilin kemanapun dia pergi, haha. Yang penting begitu dia pulang, disambut dengan cinta.

Nah, karena dari awal kita sadar bahwa kita saling melengkapi, terbersit ide buat bikin kayak coffee shop and bookstore gitu. Ide manis yang bikin kita senyum-senyum tiap ngobrolin ini.

Mudah-mudahan ada rezekinya buat menggapai impian ini dan jadi jalan sukses buat kita berdua.

Minta doanya ya.

Posted by : Nadia Putri Karisya at Tuesday, November 19, 2019
Categories: :

0 comment(s)  

Halo semua, selamat malam semuanya. Gue kembali dengan status baru sebagai istri dan ibu dari (baru) 1 orang anak perempuan lucu, menggemaskan dan kadang amat sangat "menggemaskan".

Alhamdulillah, ditinggal hampir 3 tahun, blognya gak ada sarang laba-labanya. Yang ada hanya jejak tulisan yang pas dibaca ulang, bikin cringe, bikin ngikik, bikin ketawa, bikin tutup muka karena malu.

Kenapa sih balik lagi nulis blog? Kan sekarang jamannya nge-vlog. Ih ketinggalan jaman banget deh masih nge-blog.

Guys, gue kan p-e-m-a-l-u. Posting foto di IG aja dicari dulu kumpulan foto-foto dari beberapa minggu sebelumnya, mana yang paling oke dan gak keliatan aneh. Apalah gue ini kalo disuruh nge-vlog? Atau bisa juga nyoba nge-vlog kayak DJ Marshmellow aja gitu ya? Pake topeng atau kardus di muka? Hahaha.

Sebenarnya, alasan gue nulis lagi di blog ini, because she said that I need to pour emotions into something. So I choose to write. Again. Soalnya cuman ini keahlian yang gue bisa untuk menceritakan sesuatu, mencurahkan sesuatu. Yes, I need attention. But I'm not a seeker attention. Gue masih malu buat cerita tentang perasaan gue, semua perasaan gue. Atau menceritakan masalah gue. Why? Because everyone has their problems. Jadi menurut gue, ini satu-satunya cara gue diperhatikan tanpa harus minta diperhatikan, hohoho.

Kalau gak nyaman, ceritain (tulis). Kalau senang, ceritain (tulis). Kalau sedih, ceritain (tulis). Kalau marah, ceritain (tulis).

Tapi gak semua berujung jadi post atau diterbitkan. Ada beberapa yang berakhir menjadi Draft. Karena ketika gue marah, semuanya yang di kepala, keluar. Dan orang gak harus selalu tau kenapa gue marah. Yang gue perlu lakukan cuman menuangkan kemarahan aja dalam bentuk tulisan. DONE.

Mudah-mudahan, menulis (lagi) ini bisa menjadi terapi yang baik seperti yang beliau bilang.


Posted by : Nadia Putri Karisya at Wednesday, November 06, 2019
Categories: :

0 comment(s)  

Episode cerita ngelindur kali ini terjadi setelah gue menikah. Jadi kalo suami istri kan otomatis bobonya bareng (yaeyalah).
Pagi-pagi suami senyum-senyum sambil bilang, "Neng, semalem ngelindur ya?"
Gue gak terima dibilang ngelindur, "Masa? Ngomong apa gitu?"
"Iya, ngelindurnya bilang gini, 'Emang gue cewek apaan?'!"
Gue langsung ngakak malu.

Posted by : Nadia Putri Karisya at Wednesday, April 27, 2016
Categories: :

0 comment(s)  

Sebelum nikah, gue pernah termenung melihat ke luar jendela dalam perjalanan pulang di hari Jumat yang basah, mengangankan ada suami yang jemput di Bandung, trus ngajak makan malam dulu sebelum pulang.
Yang jadi poin itu,pulang dari Jakarta di hari Jumat malam. Soalnya, biasanya selain Jumat pulangnya, mengingat trafik di Jumat sore cukup menyebalkan, jadi awak kantor jarang ngambil pertemuan di hari Jumat.
Kemarin, mimpinya terwujud. Dijemput suami di travel dan pulangnya makan malam dulu. Buat gue, dia sebenarnya gak romantis-romantis amat, lebih ke arah sengklek malah. Tapi, tiap gue ada dinas ke Jakarta dan harus nyubuh, dia bela-belain mau nganter. Padahal gue udah ancang2, bisa lah ya naik motor sendiri, disimpen di travel atau di kantor. Nanti pulangnya gak usah terlalu tergantung. Ceritanya belajar jadi istri mandiri. Kadang gue udah ngotot pengen gitu, ngejabarin alasan dari A-Z, tapi suami cuman bilang, "Udah dianterin aja sama aa!"
"Siap, sayang!" Sambil malu-malu kucing nemu ikan asin.

Posted by : Nadia Putri Karisya at Wednesday, January 27, 2016
Categories: :

0 comment(s)  

Dear my future kids,
Congratulations, I've found your father and we're getting married in less than one week. Til we met then ;).

Posted by : Nadia Putri Karisya at Sunday, November 01, 2015
Categories: :

0 comment(s)  

TKP : Kantor
"Woo, laptopku cuman 250GB ukuran harddisknya."
"Iphone dia tuh udah 6 apa 5 gitu ya, aku aja cuman iphone4."
"Ini layar samsungnya yang 5 inch?"

Gue : "...." (dalam hati, hape gue nokia symbian, laptop yang dipake ukuran harddisknya 80GB, itupun jadi 2 drive, layar handphonenya press screen, not touch screen)
Alhamdulillah, masih bisa hidup dan menikmati hidup :D.

Posted by : Nadia Putri Karisya at Wednesday, September 02, 2015
Categories: :

0 comment(s)  

Some people just need their mind clear and their hand busy...

Posted by : Nadia Putri Karisya at Thursday, July 16, 2015
Categories: :

0 comment(s)  

Sebelumnya, FYI aja sih, gue nulis begini karena buat gue it's over, I have a new life now. Jadi yaa gue nulis ini bukan karena mau membuka-buka hal yang lama, tapi justru karena udah selesai buat gue makanya gue tulis, gue dokumentasiin, sebagai pengingat untuk selanjutnya :D.

Mungkin ada beberapa pertanyaan dan kesangsian yang menjalar. Dan timbul kesan, "Kok ninggalin sih lagi keadaan gini!"
Well, yang bisa gue bilang cuman, "I may be the one walking away...But you're the one that's leaving -- again.."
Kemana saat itu? Kemana? Kemana? Cuman itu pertanyaan gue. Jadi akhirnya setelah merasakan harus bener-bener berjuang sendirian, ya udah keputusan itu lah yang keluar. Dan buat gue, antisipasi setelah gue memutuskan itu, amat sangat terlambat. Entah juga, tapi merasa progress perbaikannya itu melambat, dengan  masing-masing sibuk untuk dirinya masing-masing. Ketika mereka yang berada di bawah membantu untuk naik puncak, dan yang diatas ternyata lebih sibuk melihat sekelilingnya, yang tadinya gue pikir untuk keamanan bersama, yaa hasilnya begitu. You fight for yourself ujung-ujungnya.
Jadi memang ibaratnya mah keliatan kayak satu kesatuan, tapi ternyata di dalamnya harus berjuang masing-masing lagi, mempertahankan diri sendiri lagi. Dan buat gue, kalau emang harus kayak gini, kenapa gue harus memilih diam di sana? Ya mending gue jalan aja ke arah lain, toh sama-sama harus berjuang sendiri kan, sama-sama gak ada perisai yang melindungi selain diri sendiri. Gak ada bedanya. Malah mungkin gue dapet keuntungan yang lebih dengan berjalan ke arah lain, entah skill baru, ilmu sosialisasi baru dan semuanya.

Dan ini mungkin salah satu keputusan terbesar gue di tahun 2014, dan gue gak menyesal mengambil keputusan ini. I'm happier now :D. A lot happier. Mungkin buat sebagian orang, apa yang gue rasakan ini terlalu dibesar-besarkan. Tapi percayalah, ketika drama super "penting" pernah berseliweran dalam hidup kamu, ketika terlepas dari semua itu, bahkan kerupuk dengan nasi panas pun terasa nikmat. Perasaan ini yang sedang gue rasakan saat ini, hanya datang dan mengkhawatirkan soal nilai saja sudah bisa membuat gue bahagia. Mendapat 100 pada nilai UTS dan test-test bikin gue cengar-cengir seharian. Bikin gue hiperaktif dan sibuk baceo. Jadi ya, memang semua ini ada hikmahnya :D.

Posted by : Nadia Putri Karisya at Sunday, November 09, 2014
Categories: :

0 comment(s)  

So, last day in July, huh? Now, I'm going through a new experience, leaving my comfort zone, getting deep in new things.
Tetiba jadi terngiang-ngiang lagu yang lagi hits banget di kalangan anak-anak.

It's funny how some distance
Makes everything seem small
And the fears that once controlled me
Can't get to me at all!

It's time to see what I can do
To test the limits and break through
No right, no wrong, no rules for me I'm free!
-- Let It Go - Frozen OST --
New things? Sejujurnya, gue takut mencoba hal baru. I like challenges, but new things makes me stressed just to think about it. Karena dari dua proses menuju hal baru yaitu, adaptasi dan sosialisasi, tubuh dan pikiran gue lebih mudah untuk melakukan adaptasi dibandingkan sosialisasi. I just need to observe and then just do it. Tapi untuk sosialisasi, gue harus berhati-hati untuk tidak menabrak orang di sekeliling gue. Dan lagi skill sosialisasi gue masih di kelas pemula. Dan dengan bisa duduk anteng, mendengarkan orang mengobrol aja buat gue udah termasuk sosialisasi :D. Ya, ya, ya, level sosialisasi kita emang beda! *bari jamedud* 
Kalau disuruh ngobrol sama orang asing sih bisa, itu kan sosialisasi tingkat dasar. Itu sih gue udah menguasai *senyum sombong*
Iya, intinya sih, leaving comfort zone ini akan melibatkan dan mengerahkan skill sosialisasi dan adaptasi gue. Dan emosi pastinya, hehe. Drama-drama kecil akan mewarnai lembaran baru ini. Excited sekaligus deg-degan menghadapinya.

Posted by : Nadia Putri Karisya at Thursday, July 31, 2014
Categories: :

0 comment(s)  

Client (C) : "Mba, katanya anaknya sakit ya?"
Nadia (N) : "Hah?" *hah, se-hah-hah-nya*
C: "Iya, tadi kayak denger ada yang bilang, katanya anaknya mba nadia sakit!"
N: *ngikik dalam hati*
N : "Saya belum nikah mba!"
C : "Oh, iya, makanya saya juga agak bingung. Setau saya sih emang belum nikah kan, makanya saya konfirmasi!"
N : *senyum-senyum*
C : "Emang kelahiran taun berapa mba?"
N : "1988!"
C : *muka kaget* "Oh, lebih muda setaun daripada saya ya! Tapi mukanya keliatan dewasa!"
--------------------------------- gunting disini -----------------------------------

Belum sempat dikonfirmasi ulang ke orangnya, terlihat dewasa apa terlihat lebih tua. Baru kali ini dibilang lebih tua daripada seharusnya. Keseringan dianggap anak SMA :))

Posted by : Nadia Putri Karisya at Monday, July 07, 2014
Categories: :

1 comment(s)  

I have experienced some event that really annoyed me so much. Jadi, gue janjian sama orang jam 7 di tempat A, untuk pergi ke tempat B. Karena status gue adalah sebagai penumpang a.k.a nebengers, jadi gak enak dong kalo gue terlambat dan membuat orang lain menunggu. Sebenarnya sih, lebih ke commit sama janji aja. Janjian jam M, maksimal M-1 menit udah ada. Karena, setelah gue liat-liat dan lirik-lirik, salah satu ciri negara maju adalah tepat waktu alias menghargai waktu. Dan gue pengen negara Indonesia jadi negara maju, jadi mari kita mulai dari individu terkecil, yaitu diri sendiri untuk belajar tepat waktu. Kalau bukan kita siapa lagi? Kalau bukan sekarang kapan lagi? *It wasn't campaign ya :P*
Jadi, walaupun gue tahu, orang yang bakal janjian sama gue adalah orang yang tidak tepat waktu, tapi bukan berarti gue bakalan terseret-seret gak tepat waktu. Karena ayat Qur'an juga menjelaskan,

Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengubah apa apa yang pada diri mereka - Ar-Ra'd ayat 11

Jadi, sebenarnya alasan mengubah diri itu jangan tergantung sama orang lain, tapi emang harus dari dalam diri sendiri. Kalau dijadikan motivasi, boleh lah.
Oke, kembali ke topik semula. Jadi, setelah konfirmasi bahwa kita emang fix janjian jam 7, gue udah kalkulasi waktu dengan sangat teliti, mulai dari jarak tempuh rumah ke tempat janjian, case condition kalo ngetem dan macet, sampe udah prepare waktu kalo gue kesasar dari tempat janjian. *maklum, golongan darah B, suka ajaib :P* Bahkan, kalau di akuntansi itu ada biaya tak terduga, maka gue pun udah menyiapkan variable dengan nama "waktu tak terduga". Itu untuk prepare kalo tiba-tiba ada hal yang terjadi di luar nalar gue, misal, diculik alien atau dikejar-kejar zombie.
Dan alhamdulillahnya, gue sampe di tempat janjian jam 06.59 (setelah cross check waktu di handphone dan arloji). Gue sms temen ngasih tau gue udah sampe, dan karena orang yang janjian sama gue adalah jam karetnya tebel banget, jadi sambil nunggu, gue jalan 100 meteran lah buat nyari ATM dulu. Rencananya sih kalo misalnya udah dikasih tau udah ready to go, niat gue buat nyari ATM dihilangkan saja dulu, bisa nanti lagi lah ya. Sampe gue selesai ngambil uang di ATM, kok gak ada tanda-tanda keberadaan. Rada cengo gue nungguin di pinggir jalan sambil ngeliatin jam.
Tepat jam digital berganti ke 7.30, gue langsung nyebrang jalan dan nyetop angkot, untuk PULANG. Kenapa gue memutuskan pulang? Kenapa keliatannya gue cetek banget buat langsung nyetop angkot untuk pulang? Kenapa gue keliatan kayak sumbu sabarnya pendek banget cuman gara-gara nungguin setengah jam? Kenapa kayak gue keliatan pundungan cuman gara-gara nunggu di pinggir jalan selama setengah jam?
Jawabannya setelah gue jabarin penjelasan berikut.
Gue ngesms temen, ngasih tau gue gak jadi ikut, karena udah kelamaan nunggu di pinggir jalan. Temen gue nge-screenshoot ngasih tau kalo si empunya mobil udah jalan. Dan gue tengok jamnya, itu 7.25 sodara-sodara, dia baru berangkat dari rumah. Ya ampun, gue langsung mendadak sedih dalam hati.
Oya, pertanyaan diatas akan gue jawab seperti ini, "Because it's not her first time doing this!" Bukan sekarang doang tiap janjian sama dia, gue diperlakukan seperti ini, nyebut jam berapaaa dateng jam berapa. Lama-lama gue juga muak diperlakukan seperti ini. Iya tau, gue numpang, nebeng, ngikut mobilnya, tapi yaa gak gini juga kali perlakuannya. Toh, yang nyebut jam berapa harus siap juga bukan gue. Kalau ini pertama kalinya dia terlambat, gue bakal maklum, gue bakal toleransi. Tapi kalo ini udah jadi kebiasaan, males juga lama-lama keseret-seret gak tepat waktu.
Kalau ditanya, lha kenapa masih mau janjian sama dia? People changed and deserve second chance, right?  Gue pikir dia sudah berubah, ah, I made a mistake. -- this was edited out by me. Reason : bukan urusan gue ngurusin amalan orang :D --
Sampe-sampe gue mikir keras, mencoba melihat dan menimbang dari dua sisi. Gue inget-inget, pernah gak sih dia tepat waktu. Kalau pernah sih mungkin pernah ya, cuman saking seringnya gak on time, gue gak inget kapan dia pernah tepat waktu. Lebih sering gak on timenya.
Nah, lebih jauhnya sekarang, gue jadi gak respek sama orang yang gak bisa ontime. Kenapa? Karena, saat menyebut waktu untuk janjian, artinya kita melibatkan dua variable, orang yang janjian sama kita, dan waktu yang kita sebut. Plus, satu variable alasan wild card, artinya cuman boleh dipakai sesekali.
Contoh 1 : Gue udah janjian sama orang sebanyak 8 kali, dan dia ontime terus, nah waktu janjian ke-9, dilalahnya dia terlambat dateng. Misalkan, alasannya karena macet. Itu gue terima kok. Kenapa? Karena tabungan dia sewaktu janjian sama gue nilainya positif, artinya dia menghargai gue dan waktu selama 8 kali. Kebetulan aja yang ke-9, sebenarnya dia udah prepare buat gak terlambat, tapi yaa memang sudah suratan takdirnya terlambat.
Contoh 2 : Gue janjian sama orang sebanyak 4 kali, dan dari empat-empatnya dia selalu terlambat dengan berbagai macam alasan, ya macet lah, ya masih ada kerjaan kantor lah. Pokoknya tiap terlambat dia selalu punya alasan. Buat gue, orang itu udah gak menghargai gue dan waktu. Dia udah gak ada usaha buat tepat waktu, karena dari empat-empatnya itu terlambat semua.
Dan yang kadang bikin gue gondok adalah, di Indonesia ini, ngaret itu adalah sesuatu yang lumrah. "Lha, biasalah ngaret, namanya juga orang Indonesia!" Eamaaaaang. Mbok ya kalo punya tradisi itu yang positif napa, kenapa harus tradisi negatif yang nempel sih. Dan gue pikir, itulah sebabnya kita malah kesalip sama -sebut saja - Malaysia. Karena kebiasaan yang negatif sudah turun temurun dianggap lumrah dan biasa.
Dan kalau misalnya ada yang menganggap, "Ya ampun, gitu aja dibesar-besarin. Cuman terlambat 15-30 menit!" Well, cuman-terlambat-15-30-menit my app *i'm not allowed to say bad word*. Yang kecil aja disepelein, gimana mau dipercaya buat megang yang besar?
Ya, intinya sih, dengan ontime itu artinya kita bisa belajar menghargai orang dan menghargai waktu. Kalau kita ingin dihargai orang, kenapa kita gak mencoba menghargai orang dulu? Kalo masalah waktu, yang gue inget adalah film Click :D. Dimana ada saatnya kadang gue pengen waktu yang pernah terbuang sia-sia bisa gue kumpulin lagi, bisa gue tabung lagi buat hal yang bener-bener berguna.
Yuk, jadi negara maju, kita mulai dulu dari menghilangkan kebiasaan ngaret. Nah, kalo ngomongin tentang SDM yang berkualitas, mungkin gue bisa lanjutin nulis di postingan selanjutnya. Biar gak melenceng kemana-mana :D.

Posted by : Nadia Putri Karisya at Tuesday, June 24, 2014
Categories: :

0 comment(s)  

I feel annoyed for every little thing they did, even for the very little things.
This isn't right, every time I think, "This is fun!" then it become, "This isn't fun, they annoyed me too much. I can stand it anymore. I'm hot having fun, I want to get out faster!"

Posted by : Nadia Putri Karisya at Wednesday, June 18, 2014
Categories: :

0 comment(s)  

At some point, I’ve grown used to the darkness and loneliness. It's like I don't want to say "so long," I just want to say "goodbye". Memories faded, leaving some marks in my brain. And I don't even know where the scars emerge. There is always "It isn't right!" when you think, "Well, it's great. I can live with it!"

Posted by : Nadia Putri Karisya at Wednesday, June 18, 2014
Categories: :

0 comment(s)  

Kalau gak sengaja dengerin lagunya BCL - Jangan Gila suka senyum-senyum sendiri, mendadak ingat sama yang bilang, "Liriknya kalo didengerin, kayak dejavu!"

Posted by : Nadia Putri Karisya at Tuesday, May 13, 2014
Categories: :

0 comment(s)  

Dilihat dari judul di atas, gue akan menimbulkan pertanyaan, mana yang lebih kalian pilih? Tidur enak atau makan enak? Makan enak atau tidur enak? Ayoo, dijawab..
Kalau pertanyaan itu dikembalikan ke gue, maka akan dijawab dengan malu-malu, "Saya lebih memilih tidur enak!"
Why? Karena buat gue pribadi yang bukan extreme picky eater, asalkan badan sehat, segala macam makanan bisa masuk. Nasi sama kerupuk pun jadi. Dan syarat badan sehat versi gue adalah tidur yang enak dan tidak banyak pikiran. Syarat yang pertama itu mutlak harus dipenuhi. Soalnya, kalo tidurnya cuman 2 atau 3 jam sehari, otak gue udah gak bisa merekam apapun obrolan dengan orang lain. Nah, obrolan aja udah susah ketangkep, apalagi soal makanan. Jatuhnya jadi pengen makanan yang bener-bener harus mengundang selera untuk memancing biar mau makan. Jadi emoh kalo makanannya kategorinya "sederhana". Dan kategori bener-bener harus mengundang selera itu biasanya makanan yang mengandung kolesterol tinggi. Yang bisa bikin badan justru makin gak sehat. Maka dari itu, pencegahan itu lebih baik daripada mengobati. Dengan mengusung tema tidur enak, gue tetap bisa menjaga kesehatan tubuh untuk jangka panjang. Belagu kan badannya kalo lagi gak enak.
Nah, syarat badan sehat yang kedua adalah tidak banyak pikiran. Sama seperti menjauhkan tubuh dari kolesterol, gue juga melakukan pencegahan dengan tidur enak. Why? Selama ini yang gue rasakan adalah, kalo tidurnya kurang atau tidak enak, gue menjadi lebih sensitif berkali-kali lipat dan overthinking. Ujung-ujungnya adalah drama plays and directed by me. Adegan menangis ketika hujan-hujanan, bersandar pada tembok dan mulai memikirkan arti hidup. Apa yang salah dari kelakuan gue selama ini hingga harus mengalami kejadian-kejadian yang membuat gue menguras air mata hingga habis. Kenapa? KENAPAAAA?
Dan gue juga pernah denger di tivi, ada seorang narasumber di kick andy, beliau bilang gini, "Dengan tidur enak, pikiran kita jadi lebih fresh dan terjaga, jadi kesempatan kita untuk mencari makanan enak dan menikmatinya lebih besar!"
Dipikir-pikir, ya betul juga sih, tidur yang cukup itu seperti yang gue bilang di awal adalah syarat badan sehat. Kalau badan sehat, mau ngapain juga enak. Mau ini mau itu, selama badan sehat insyaALLAH bisa dilakukan.
Jadi kembali lagi, kesimpulannya adalah kalian pilih yang mana? Tidur enak atau makan enak?

Posted by : Nadia Putri Karisya at Tuesday, May 13, 2014
Categories: :

0 comment(s)  

Kayaknya gue punya stok bensin yang kalo disiram bisa bikin terbakar habis semuanya. Bisa bikin hancur berkeping-keping macam keramik yang dibanting. But, is that what I really want?

Posted by : Nadia Putri Karisya at Monday, March 31, 2014
Categories: :

0 comment(s)  

Aneh juga rasanya ditanya, "Kenapa?" sama orang yang justru menjadi penyebabnya.

Posted by : Nadia Putri Karisya at Thursday, March 20, 2014
Categories: :

0 comment(s)  

Conceal, don't feel, don't let them know..
Let them assume..
Just focus to your goal..
It really matters..

Posted by : Nadia Putri Karisya at Monday, March 10, 2014
Categories: :

0 comment(s)  

Bila aku memang tidak bisa memilikimu, bolehkah aku memohon untuk menghabiskan waktu sehari penuh bersamaku. Bukan, bukan sehari 8 jam layaknya jam kerja. Tapi 1X24 jam layaknya tamu menginap yang harus minta ijin satpam.
Bercerita semaunya, tentang apapun, tentang mimpimu, tentang mimpiku. Tentang harapanmu, tentang harapanku. Menikmati tawamu, senyum anehmu ketika aku mencoba menceritakan kisah lucu. Menikmati keherananmu ketika tiba-tiba aku tersenyum saat kita terdiam. Menikmati keluh kesahmu yang tentu saja tidak akan kau beberkan karena kau kira akan merusak suasana.
Tapi lebih dari semua itu, aku menikmati waktu bersamamu, dan walaupun terdengar menyedihkan, kita sama-sama jatuh cinta lagi pada 24 jam tersebut. Ketika 24 jam tersebut seakan mengangkat kembali alasan kita jatuh cinta, alasan kita harus berpisah, alasan kita harus menjaga jarak. Karena seperti yang kamu tahu, kamu yang mencintaiku karena alasan cermin. Karena cermin itu mengingatkanmu pada diriku. Cermin yang sama yang membuat kita terpisah. Kamu yang melihat aku sebagai bagian dari dirimu, kamu yang merasa aku melengkapimu, kamu yang mendengar aku sebagai nafas hidupmu. Dan kamu yang memutuskan untuk mencari pelengkap dibanding cermin.
Ya, ini aku. Yang dengan pintarnya masih berharap kau akan menoleh ke belakang, melihat pada cerminmu, dan tertawa karena menyadari kebodohanmu meninggalkan cermin ini. Lalu kau akan kembali, membuang semua 24 jam itu, karena cerminmu ini akan selamanya bersamamu, menemanimu, tertawa bersamamu, menangis bersamamu.
Dan itu kamu, yang terhenti, tepat ketika kamu menyadari bahwa cermin ini akan retak, dan ketakutanmu sebagai penyebabnya. Kamu memilih mencegah, memilih mundur, memilih berbalik arah. Membiarkan cermin ini - yang terheran-heran - di tempatnya. Kamu terlalu takut kembali jatuh dalam ketidak percayaan, dalam genangan lumpur yang kau ciptakan sendiri. Kamu terlalu letih untuk menggapai ke atas ketika terjatuh. Kamu lebih memilih menghindar, aman dan selamat.
Tapi cermin ini tetap retak, dan sedihnya, memang kamu lah penyebabnya. Tepat ketika kamu berbalik arah, cermin ini terbelah menjadi dua.

Dan ketika 24 jam itu telah usai, kita akan kembali menjadi aku dan kamu. Aku yang menjadi cerminmu yang retak.


*penggalan ide cerita novel coming soon yang akan release saat deadline dan akhir tahun memutuskan untuk berpisah baik-baik. Nantikan eksklusif hanya di blog ini yang entah kapan akan diupdate.*

Posted by : Nadia Putri Karisya at Monday, March 10, 2014
Categories: :

0 comment(s)  

Semakin gue membuka diri terhadap para manusia, semakin gue gak paham cara berpikir mereka. What they want, what they do, what they after.

*huft, masuk ke dalam gua lagi aja dah*

Posted by : Nadia Putri Karisya at Monday, March 10, 2014
Categories: :

0 comment(s)  

 
 


Rekam Jejak Notulen Code

gajah mati meninggalkan gadingnya, programmer mati meninggalkan codenya

Designed by © indrockz